"Jadilah pemimpi yang mendunia, yang masih menapakkan kaki di bumi"
"Batas antara MIMPI dan GILA adalah tali kekang kesadaran"

Minggu, 10 Januari 2010

Siapakah Ibrahim dan Ismail saat ini...?!?

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”
(Q. S. Al-Hajj : 34)


Idul Adha disebut juga sebagai Idul Kurban, karena kurban dilaksanakan setelah melaksanakan sholat pada hari raya itu, yaitu pada tanggal 10 Dzulhijah sampai tanggal 13 Dzulhijjah, atau sering kita kenal sebagai hari tasyrik. Lalu, bagaiman awal diperintahkannya Kurban dan apa makna kurban sesungguhnya bagi kita?

KISAH NABI IBRAHIM A.S. MENYEMBELIH ANAKNYA ISMAIL A.S.

Kita semua tahu bahwa awal mula diperintahkannya berkurban adalah pada masa Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dan istrinya--Siti Hajar--diuji keimanannya oleh Allah SWT. Setelah bertahun-tahun mereka menanti kelahiran seorang anak, yaitu Ismail a.s, mereka diuji dengan diperintahkan untuk menyembelihnya.

Pada suatu malam, Nabi Ibrahim a.s, bermimpi Allah SWT memeritahkannya supaya mengorbankan putranya--Ismail a.s.--. Karena yakin akan mimpinya itu, segera Nabi Ibrahim a.s. bermusyawarah dengan Ismail tentang hal itu. Dan di luardugaan, Ismail a.s. menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan tenang seraya berkata : “Wahai ayahku, jika ini memang perintah Allah SWT, maka taatilah, dan aku rela untuk dikurbankan”

Mendengar tekad putranya, Nabi Ibrahim a.s. segera bersiap-siap untuk mengorbankan putranya. Tetapi, setelah segala sesuatunya selesai dan upacara kurban akan dimulai, terjadilah peristiwa yang menakjubkan. Dengan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, muncul seekor sembelihan (kambing) yang menggantikan Ismail a.s. untuk disembelih. Maka lega-lah hati Nabi Ibrahim a.s. Dipeluknya anak kesayangannya itu dengan penuh kasih, seraya mengucapkan pujian kepada Allah SWT.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menerangkan peristiwa ini :
‘Ya Tuhan-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami Beri dia Kabar Gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami Panggilah Dia,”Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.’ (Q. S. Ash Shaffat : 100-111)

Maha Benar Allah SWT dengan segala firman-Nya. Begitu indah kisah tersebut. Dalam kisah terbut terdapat makna yang tersirat dan tersurat di dalamnya. Bagaimana kepatuhan Nabi Ibrahim a.s.,--bapak dari para nabi--terhadap Allah SWT. Padahal, Ismail a.s. adalah anak yang selama ini ditunggu-tunggu kehadirannya. Tapi, Nabi Ibrahim selalu ingat bahwa kepatuhan pada Allah SWT adalah segala-galanya.

Sampai pada akhirnya Allah SWT menujukkan kebesaran-Nya dengan mengganti Ismail a.s. dengan seekor sembelihan yang besar. Inilah buah dari kepasrahan, kepatuhan dan kesabaran diri pada Allah SWT. Inilah kisah yang banyak memberi kita pelajaran. Dimana terkadang dalam diri kita terdapat kecintaan yang dapat melebihi dari kecintaan pada Allah SWT. Padahal, tidak ada yang lebih pantas kita cintai daripada Allah SWT. Dia-lah Maha dari Segala Maha.
LALU, APA DAN SIAPA ISMAIL SAAT INI?

Di dalam kisah Nabi Ibrahim a.s, Ismail merupakan simbol dari sesuatu yang sangat dicintai, sesuatu yang sangat diinginkan, sesuatu yang diidam-idamkan selama bertahun-tahun dan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu dengan penuh perjuangan. Tapi ternyata, sesuatu itu tidak berharga jika dibandingkan dengan kecintaan dan kepatuhan pada Allah SWT. Lalu, saat ini siapakah yang berperan sebagai Ismail dalam kehidupan kita?

‘Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ‘ (Q. S. Ali-Imran :14)

Ayat di atas memberikan gambaran perihal apa saja yang selama ini dianggap indah oleh pandangan mata kita. Yang terkadang kita disilaukan dan terlena oleh semua itu. Harta yang melimpah ruah-kah? Kekuasaan-kah? Jabatan-kah? Anak-anak kita-kah? Keluarga kita-kah? Apa itu yang selama ini kita cintai? Yang selama ini kita kejar dengan penuh perjuangan, bahkan terkadang mata kita pun tertutup pada kebenaran. Yang ada hanyalah pemikiran-pemikiran pintas: yang penting naik jabatan, yang penting dapat kekuasaan, yang penting banyak harta. Tanpa kita sadari tangan kita telah sikut sana-sini, mendorong orang sehingga jatuh terjerembab. Kita sama sekali tidak peduli.

Itulah Ismail kita saat ini. Harta, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan ego kita. Jangankan kita mau untuk mengorbankannya, rasanya kita sangat mati-matian untuk memenangkannya. Kita lupa bahwa di balik itu semua ada yang lebih harus kita cintai, yaitu Allah SWT. Kepatuhan kepada Allah SWT harus berada di atas segala-galanya.

Apa yang harus kita sombongkan? Bukankah harta, kekuasaan, jabatan, keluarga, anak-anak kita ,bahkan ego kita sendiri, itu hanyalah milik Allah SWT. Bahkan Allah SWT telah membeli diri dan harta orang-orang mukmin dan menggantinya dengan surga, sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT berikut :

‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.’ (Q. S. At Taubah : 111)

Sungguh betapa mulianya Allah SWT. Dia telah membeli sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi miliknya. Lalu apa yang kita punya? Tidak malukah kita menyombongkan sesuatu yang sudah dibeli, yang secara otomatis itu bukan milik kita lagi? Tidak malukah kita memperjuangkan mati-matian sesuatu yang bukan milik kita? Itupun kalau kita sadar, kita menginginkan surga. Karena itulah yang Allah janjikan dan Allah Maha Menepati Janji-Nya. Untuk itu, kurbankanlah itu semua, terutama ego kita, karena benar-benar kecintaan pada Allah SWT. Hanya berdasar pada kepatuhan dan tunduk kepada Allah SWT semata. Pasrahkan diri hanya untuk diatur oleh aturan-aturan Allah SWT.

SEEKOR, SIMBOLISASI SIFAT HEWANI

Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa Ismail kita saat ini adalah harta, kekuasaan, jabatan, keluarga dan ego kita. Lalu, timbul satu pertanyaan lagi. Kenapa Ismail dalam Kisah Nabi Ibrahim a.s. kemudian diganti oleh seekor sembelihan yang besar seperti terdapat dalam Q.S Ash- Shaffat ayat 107, yaitu :
‘Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.’

Yang perlu digarisbawahi disini adalah kata SEEKOR. S-E-E-K-O-R. Seekor berarti hewan. Kalau saat ini hewan kurban itu berupa kambing, sapi atau unta. Pernahkah kita berpikir kenapa harus hewan yang jadi simbolisasinya? Sekarang, marilah kita lihat dan renungkan bagaimana kehidupan hewan!

Saat mereka lapar, mereka harus mendapatkan makanan. Tidak peduli dengan cara apapun. Bahkan mereka rela berebut dan menginjak hewan sejenis lainnya. Dan saat mereka mendapatkannya, mereka makan dengan rakus tanpa memikirkan hewan sejenis lainnya yang tidak mendapatkan bagian makanan. Di samping itu, mereka berkembangbiak seenaknya. Kawin dengan sesuka mereka. Kapanpun, dimanapun dan siapapun. Mereka hidup tanpa aturan. Benar kan? Karena toh ternyata sampai saat ini kita belum pernah mendengar kata “perkekambingan” atau perundan-undangan monyet.

Sekarang kita lihat dalam diri kita masing-masing, apakah perilaku hewani di atas ada dalam diri kita?
Bukankah semua sifat heawni itu tergambar jelas dalam kehidupan kita? Diantara kita saling berebut harta kekayaan dan jabatan dengan menghalalkan segala cara. Suap menyuap sudah jadi tradisi yang jamak dilakukan. Free sex semakin menjadi-jadi. Tidak hanya di kalangan remaja, tapi sudah menyebar di seluruh kalangan masyarakat. Pelacuran ada dimana-mana. Bapak memperkosa anaknya. Kakek memperkosa cucunya.

Satu hal lagi yang unik. Segalak-galaknya singa belum pernah ada yang memakan anaknya. Tapi kita manusia?!? Yang katanya punya perikemanusiaan, tapi sudah terdengar berita seorang ibu memakan jabang bayinya sendiri. Ada ibu yang membunuh 3 orang anaknya. Naudzubillah. Padahal bukankah Allah menciptakan manusia itu sebagai khalifah?

‘Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi...’ (Q. S. Al Faathir : 39)

‘Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi...’
(Q.S. Shaad : 26)

Sudah sebobrok itukah moral manusia? Lebih rendah dari seekor hewan?
Lalu, dimanakah aplikasi kurban yang sesungguhnya? Ritual kurban tidak hanya sebatas membeli seekor kambing, menyembelihnya antara tanggal 10 Dzulhijjah dan 13 Dzulhijjah, lalu membagikannya kepada orang yang berhak menerimanya. Lalu setelah itu, BERES. Tidak hanya sebatas itu.

Ketika kita kurban berarti telah ada dalam diri kita terdapat 2 kesiapan mendasar. Apakah itu?
Pertama, kita siap mengurbankan segala yang kita milikki hanya karena keptuhan dan ketundukkan kita pada Allah SWT. Dengan kata lain, tidak ada yang dapat mengalahkan kecintaan kita pada Allah SWT, apapun bentuk Ismail itu. Entah harta, jabatan, kekuasaan atau apapun juga.

Kedua, kita siap mengeliminasi sifat hewani yang terdapat dalam diri kita Salah satunya sifat serakah dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ingatlah bahwa ego dan hawa nafsu kita hanya boleh diatur oleh Allah SWT.

Marilah kita semua menjadi Ibrahim-Ibrahim kecil dalam kehidupan kita saat ini. Marilah kita kurbankan Ismail demi kecintaan kita pada Allah SWT. Marilah kita hilangkan sifat-sifat hewani yang mengakar dalam diri kita. Itulah hakekat kurban yang sebenarnya. Dan semoga kita dijadikan sebagai orang-orang yang memperoleh nikmat yang banyak, seperti dalam Q. S Al Kautsar ayat 1-2 : ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.’ Walahu alam bi sawab.

(the 13’es_g!rl)

Benarkah Tuhan Marah Pada Manusia??

Pernahkah kita sebagai manusia berpikir atas apa yang telah terjadi akhir-akhir ini di negara yang kita pijak ini, Indonesia tercinta? Bencana demi bencana terjadi secara beruntun seperti petasan yang tidak pernah berhenti meledak. Mulai dari meledaknya bom di Bali, tragedi tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa di Yogyakarta, banjir lumpur di Lapindo dan yang saat ini masih terngiang di telinga kita yaitu banyak terjadinya kecelakaan, baik di darat, laut dan udara. Adam Air yang menghilang entah kemana. Garuda yang terbakar. Bahkan kapal laut pun terbakar.

Pernahkah kita berpikir ada apa di balik semua ini? Puluhan bahkan ratusan nyawa manusia dengan begitu mudah diambil oleh-Nya. Sidoarjo yang begitu hijau dan udaranya segar, dengan mudahnya Dia ubah menjadi lautan lumpur. Begitu juga sebaliknya, Lapindo yang asalnya bisa meraup keuntungan besar, dengan mudahnya Dia ubah menjadi perusahaan yang selalu jadi objek berita demo oleh masyarakat untuk diminta penggantian. Ya, dengan mudahnya Dia mengubah semua ini.


“Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.”

(QS. Al-Mukmin : 68)

Pantaskah kita sebagai manusia sombong dan membangga-banggakan diri? Dia Maha Kuasa atas diri kita. Marilah kita bercermin bersama-sama! Apa yang sudah kita lakukan? Diberi sedikit saja kekuasan, kita merasa bangga dan menganggap orang lain rendah. Diberi sedikit saja kepintaran, kita merasa bangga dan menganggap orang lain bodoh. Diberi sedikit saja kekuatan, kita menindas yang lemah. Diberi sedikit saja kekayaan, kita merasa bangga dan tidak mau berbagi dengan orang lain.

Padahal, dengan begitu mudah bagi Allah mengambil semuanya. Orang pintar, orang kuat, orang kaya tidak ada artinya di hadapan Allah, kalau kepintaran, kekuatan dan kekayaannya itu tidak digunakan di jalan-Nya. Telah nyata di hadapan kita, bagaimana bencana-bencana yang terjadi itu bisa menelan banyak korban tanpa memandang bulu. Kita sebagai manusia sama, yang membedakan hanyalah tingkat keimanan dan ketakwaan. Masihkah kita berbangga hati dan sombong?


“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

(QS. Al Hadid : 20)

Banyak orang yang mengklaim bahwa bencana yang terjadi saat ini adalah karena Allah swt Marah karena manusia sudah benar-benar jauh dari-Nya. Betapa tidak, kemaksiatan semakin marak. Korupsi sudah menjadi seni di kalangan penguasa. Berita kriminal sudah semakin menumpuk sehingga di TV sudah dijadikan berita terpisah, RCTI dengan Sergap-nya, SCTV dengan Buser-nya. Dengan alasan himpitan ekonomi, manusia menghalalkan segala cara. Mencuri dan membunuh rupanya sudah jadi hal biasa. Demi memuaskan nafsu, manusia menghalalkan pemerkosaan bahkan sodomi.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah Allah Marah pada manusia? Mararh atas apa? Atas semua kelalaian manusia? Lalu, dimanakah makna Ar Rahman Ar Rahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Ya, bukankah Dia-lah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dia tidak butuh manusia. Sekalipun seluruh manusia tidak beriman kepada-Nya, Allah tidak akan pernah rugi menciptakan kenikmatan surga.


“...Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).”

(QS. Muhammad : 38)

Memang benar di surat Adz Dzariyat ayat 56, Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan manusia untuk beribadah, tapi Allah tidak haus dengan sembahan atau pengabdian manusia, hal ini diterangkan pada ayat setelahnya.


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”

(Qs. Adz Dzariyat : 56-58)

Adapun kita beriman dan mengabdi pada-Nya, itu hanya untuk keselamatan kita.


“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

(QS. Al Israa:15)

Jadi, masih pantaskah kita mengira kalau Allah Marah pada manusia? Tidak, Allah Tidak Pernah Marah pada manusia. Sekali lagi, secara tegas, sepatutnya kita mengatakan bahwa ALLAH TIDAK PERNAH MARAH PADA MANUSIA. Semua musibah, apapun itu bentuknya, adalah bentuk kasih sayang Allah pada manusia agar manusia kembali ke jalan-Nya. Tentunya, manusia yang mau kembali ke jalan-Nya adalah manusia-manusia yang mau berpikir.


“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

(QS : Al Baqarah : 269)

Tak sepatutnya kita berburuk sangka pada Allah. Be A Positive Thinking. Selama dengan positive thinking itu dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kita pada-Nya. Akan tetapi, kita juga jangan terlena dengan anggapan semua bentuk kasih sayang Allah. Jika dengan menganggap bahwa semua itu adalah murka dari Allah kepada manusia, justru dapat menambah ketaatan kita pada-Nya, maka teruskanlah pikiran seperti itu. Anggaplah itu peringatan.

Satu benang merah yang menghubungkan dua pemikiran itu adalah bahwa Allah tidak pernah butuh manusia. Allah tidak butuh sembahan manusia. Itulah hubungan yang paling sulit diantara semua hubungan. Analoginya, kalo hubungan kita dengan atasan, sangat mudah bagi kita untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari atasan. Kita cukup bekerja dengan baik dan menunjukkan loyalitas kerja kita. Secara otomatis, atasan kita pun akan memberikan nilai A, karena hasil kerja kita. Disadari atau tidak, hubungan yang terjalin antara atasan-bawahan pasti dilandasi dengan rasa saling membutuhkan. Itulah yang menimbulkan adanya toleransi.

Sementara hubungan kita dengan Allah adalah hubungan Pencipta dan Yang Diciptakan. Pencipta menciptakan sesuatu pasti ada tujuannya.


“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

(QS. Al Mukminun : 115)


Apapun yang diciptakan tidak akan berguna apabila tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Inilah initi dari semuanya. Kallah tidak pernah butuh manusia, Kita lah sebagai manusia yang harusnya berpikir apakah hidup kita berguna atau tidak? Apakah sudah sesuai dengan tujuan penciptaan kita? Karena sesuatu yang tidak berguna pasti akan dibuang jauh-jauh.

Analogi sederhananya, kita membuat toilet pasti ada tujuannya, yaitu untuk menampung kotoran manusia. Jika toilet itu, tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka tidak akan disebut toilet. Oleh karena itu, toilet rela diduduki orang setiap harinya untuk buang air besar atau buang air kecil agar sesuai dengan tujuan penciptaanya. Sebagai penghargaan kesesuaian itu, maka toilet ditempatkan di WC. Beda cerita lagi dengan toilet yang tidak bisa berfunsi sesuai tujuan penciptaannya, pasti akan dibuang oleh pemiliknya.

Kiranya, analogi di atas dapat menggambarkan hubungan kita dan Sang Kholiq. Selagi nafas ini berhembus, selagi mata masih bisa melihat keagungan-Nya, selagi mulut masih bisa menyebut asma-Nya, selagi telinga masih bisa mendengar ayat-ayat-Nya marilah kita mencoba bermuhasabah tentang diri kita. Tidak cukup jelaskah bentuk peringatan dari Allah sebagai kasih sayangnya agar kita mau berpikir dan kembali pada jalan-Nya.

Dengan mudahnya Allah mengambil ribuan nyawa saudara-saudara kita dengan berbagai musibah. Pernahkah kita berpikir kapan giliran kita untuk dipanggil? Bekal apa yang sudah kita bawa? Sudahkah hidup ini sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya? Kalau belum, pantaskah kita mendapatkan tempat pengembalian yang layak? Musibah yang terjadi hendaklah bisa menggerakanotak dan nurani kita untuk mau berpikir. Jangan sampai kita menyesal di saat penyesalan itu tiada artinya sama sekali.


“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. "

(QS. Faathir : 37)


Mati adalah sesuatu yang pasti. Musibah yang terjadi hendaknya menjadi cambuk agar kita mau berubah menjadi insan-insan yang berkualitas tinggi, yang mampu membebaskan kemelut bangsa ini menuju ke dalam pencerahan yang hakiki demi bekal di hari pertanggungjawaban nanti. Dimana setiap orang datang sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya, sebagaimana dia waktu dilahirkan dalam keadaaan sendiri-sendiri. (el...)


“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu.....”

(QS Al An’am : 94)


Catatan Kecil - Menjadi Manusia haji

Bukankah hidup kita ini bagaikan drama tempat kita menyaksikan pergantian siang dan malam? Lalu untuk apakah kita hidup? Hanya untuk memenuhi hasrat-kah?

“JIKA HIDUP HANYA SEKEDAR MEMENUHI HASRAT DAN KEBUTUHAN SEHARI-HARI, BINATANG PUN BISA.”

Manusia yang tak punya orientasi hidup adalah manusia yang gagal jadi manusia. Manusia yang kalah. Tapi, semua kondisi ini dapat diterangi oleh pengalaman menunaikan haji.
Haji merupakan sebuah drama kolosal dengan Dia sebagai Sang Sutradara-nya. Inilah sebuah panggilan agar kita menghampiri-Nya. Ingatkah kita ketika Dia meniupkan ruh ke dalam hati kita? Kemudian kita diberi waktu untuk menjadi khalifah-Nya? Tapi, apa yang kita lakukan? Dengan sekehendak hati kita korupsi waktu itu dengan menghamba pada nafsu semata. Dimanakah ruh Allah itu saat ini? Bangkitlah! Penuhilah panggilan-Nya!!! Tinggalkanlah kampung halamanmu, negerimu, rumahmu. Tinggalkan dan hampirilah Dia!!!
Ingatlah bahwa

“EKSISTENSI MANUSIA TAK BERARTI DAN TAK BERHARGA SAMA SEKALI, KECUALI JIKA TUJUAN HIDUPNYA ADALAH SENANTIASA UNTUK MENDEKATI RUH ALLAH SWT.”

(^_^)

Drama kolosal ini bermula di Miqat. Ketika kita harus menanggalkan pakaian kita yang bercorak dan bermotif yang berwarna-warni, dengan pakaian yang berwarna sama yaitu PUTIH. Dengan berpakaian seperti itu, miskin, kaya, status, ras, semua menjadi satu. Beginilah kiranya suasana dan pemandangan yang akan kita saksikan di Hari Kiamat nanti. Sejauh mata memandang semuanya berpakaian serba putih---kain kafan--. Jasad kita telah dikubur di Miqat. Status, ras, pangkat, jabatan, semuanya kita tanggalkan.
Ini mengingatkan kita pada tujuan hidup. Kita akan menghadap-Nya sebagai manusia, tidak sebagai serigala (simbol kekejaman dan penidasan), tikus (simbol kelicikan), anjing (simbol tipu daya) atau domba (simbol penghambaan). Ingat dan camkan, kita akan menghadap-Nya sebagai manusia.
Niat.. inilah yang harus kita teguhkan. Kita harus benar-benar mengukuhkan tujuan kita meninggalkan rumah untuk menuju rumah Allah. Kita harus meninggalkan ke-AKU-an demi menuju kepasrahan diri pada Allah SWT. Ingatlah hal itu!!!
Kabah... Ketika kita melihat Kabah, yang merupakan arah kiblat, arah sholat kita, Kabah tak lain ruangan persegi yang kosong. Sebuah bangunan yang yang terbuat dari bebatuan hitam, tanpa ragam warna atau dekorasi apapun. Mengapa? Karena Allah Yang Akbar tidak mempunyai bentuk dan warna. Dia adalah Maha dari segala Maha.
Thawaf... Bukankah kita hendak menghampiri-Nya? Tapi kenapa kita malah berduyun-duyun dengan orang banyak? Karena jalan Allah adalah jalan umat manusia, yang harus ditempuh dengan berbarengan bukan sendiri-sendiri. Semuanya berotasi dengan Kabah sebagai pusatnya. Kita berjalan bukan lagi karena hawa nafsu kita, tapi mengikuti arus. Setetes air yang bukan bagian dari sungai atau yang tidak mengalir ke dalam lautan adalah embun. Kehidupannya hanya setengah putaran waktu, karena ia akan hilang tertelan siang begitu fajar menyingsing.
Tetapi sebelum bergabung dengan mereka, kita harus benar-benar menyadari APA YANG AKAN KITA LAKUKAN DAN MENGAPA KITA SUDI MELAKUKAN ITU?!? Lakukanlah hanya demi Allah semata. Ingatlah :
“...sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (Al Ankabut : 3)
Sa’i.... Bisa kita bayangkan ketika Siti Hajar bersama putranya yang masih bayi---Ismail--- harus meninggalkan kampung halaman menuju lembah yang tandus, tanpa air. Sendirian, gelisah. Yang dia punya saat itu adalah PENGHARAPAN. Tapi, dia tidak duduk berpangku tangan dan berputus asa begitu saja, dia berlari dari bukit Safa kemudian ke Marwah. Dia terus berlari dengan penuh pengharapan.


Thawaf : kita meyakini hanya Allah. Sa’i : hanya manusia.
Thawaf : hanya jiwa. Sa’i : hanya raga.
Thawaf : hidup bukan demi hidup sendiri, tetapi demi Allah SWt
Sa’i : sebuah usaha kerja maksimal yang bisa kita sanggupi
Rasionalisme ataukah petunjuk Illahi?
Dunia ataukah akhirat?
Kehendak Allah ataukah kehendak sendiri?
Bersandar kepada Allah ataukah bersandar kepada diri sendiri?
Allah menjawabnya : Ambillah keduanya! Sekali lagi, Hajar tidak duduk berpangku tangan, menunggu keajaban datang, tiba-tiba makanan datang dari surga. TIDAK!!! Dalam kecemasan dan kesendirian itu, Hajar berlari dan terus berlari. Tapi, dengan lemas dia tidak menghasilkan apapun, dan betapa terkejutnya dia ketika anaknya ternyata telah menggali pasir dengan tumitnya dan dari tempat yang tidak disangka-sangka, keluarlah air. Itulah Zamzam.
Pelajaran yang bisa kita ambil : AIR TIDAK DIPEROLEH MELALUI IKHTIAR YANG MENYULITKAN, TAPI MELALUI CINTA SETELAH KITA BEKERJA SERIUS DAN SUNGGUH-SUNGGUH. Bukan hasil, tapi proses untuk mencapai hasil, karena Allah-lah yang menentukan hasil. Cinta-Nya lah yang menentukan hasil.

>>ARAFAH – MAHSYAR – MINA<<
Pengetahuan & Sains – Kesadaran dan Pemahaman – Cinta & Keteguhan Jiwa


KEPASRAHAN + KEPATUHAN = ISLAM


“Yang menjadi tragedimu adalah menemukan dirimu sendiri setelah sekian lama engkau tersesat dan kehilangan jalan. PENGORBANAN DI ATAS JALAN KEBENARAN ADALAH KESELAMATAN! Dan pengorbanan dirimu sendiri di jalan kebenaran (jalan Allah SWT) adalah ibadah dan pengabdian yang sesungguhnya.”
KURBAN...


Notes :
Tulisan ini dibuat setelah seorang sahabat memberi pinjam kepadaku buku yang berjudul "Menjadi Manusia haji" Karya : Ali Syari’ati Penerbit : Jalasutra


Kamis, 09 April 2009

Pemilu 2009, Gol-Put yang menang??? Jangan Sampai deh...

Tau g? Hari ini, 9 April 2009 adalah Pemilu Pertama bagiku. Maklum waktu pilgub, aku g kebagian kartu pemilu. Ya, dengan alasan brirokrasi aku kehilangan hak aku sebagai warga negara yang baik....

Tadin tepat jam 8.00, aku mengajak ibuku untuk segera ke TPS, kata Mamahku aku kayak ayam yang kehilangan induknya hehhehe...
Habisnya aku g sabar untuk menyumbangkan suaraku dan mensukseskan pemilu,,


Sesampainya di TPS, aku kaget ternyata antusiasku tidak sama dengan orang-orang. Mereka sepertinya malas-malasan datang ke TPS. Bahkan ibu-ibu yang duduk di sampingku bilang "ngapain nyontreng?"


Wakwaw...

Rasanya ingin aku berkata, ibu ini Pemilu yang dapat menentukan nasib bangsa. Awalnya aku juga bingung harus pilih apa, tapi akhirnya aku tahu apa yang harus aku pilih...


Sebuah partai yang lebih mengedepankan visi dan misi yang rasional bukan partai yang banyak artisnya, bukan pula partai yang banyak sogokannya..